Memperbesar online Community bagi Perusahaan

Posted by admin on April 6, 2010 under Social Media | Be the First to Comment

Ada satu cerita yang pernah saya baca, seorang Community Manager sebuah perusahaan katakanlah namanya Sisca.  Setiap pagi sampai sore sepanjang tugasnya Sisca selalu membuka semua social network yang dimilikinya baik Facebook, Twitter, Digg, Buzz, Linkd, dsb. Tidak lupa Sisca menjawab semua comment yang diposting untuk teman teman online nya maupun follower nya. Tidak hanya menjawab pertanyaan tapi juga ikut mengomentari posting status teman teman nya sendiri. Hampir semua teman teman online Sisca ini hanya berkomunikasi via online, bahkan ada beberapa teman chating nya di social media itu tidak pernah ketemu muka.

Suatu ketika Sisca sangat membutuhkan bagaimana caranya meningkatkan relation online community ini. Ups… akhirnya Sisca berhasil menemukan jawabannya. Sisca akan mengadakan offline event , istilah lain dari Kopi Darat. Namun kopi darat yang diadakan dikemas sehingga tujuan untuk mempererat hubungan antar member bisa tercapai.

Pada saat acara KopDar tersebut, Sisca dengan sengaja menyapa semua teman teman online nya yang hadir di pintu receptionist. Sebelum masuk ke ruangan KopDar, Sisca ngobrol sebentar dengan mengingat wajah dan nama dari tamunya. Setelah itu Sisca menanyakan Hoby nya apa? atau apa yang kamu paling sukai di dunia ini ?. Jawaban dari si tamu Sisca tulis di Name Tag tamu yang bersangkutan, dibawah tulisan Nama dari tamu tersebut. Kenapa perlu dilakukan ini, ternyata justru sebuah kata yang ditulis di name tag di bawah Nama itulah yang justru membuat antar peserta KopDar menjadi akrab, membuat cerita cerita lucu serta mencari teman se Hobby.

Setelah semua tamu saling ngobrol, maka tiba pada tahap ke-2 adalah Making Connection. Sisca memperkenalkan satu per satu tamu dengan memberikan setiap tamu untuk maju ke depan memperkenalkan diri dan mencarikan para peserta lainnya yang cocok untuk membuat network social baru. Ternyata ..beberapa peserta sama sama suka BBQ misalnya.

Solidifying Connection, ini tahap akhir dari acara KopDar. bagaimana caranya buat next event sesudah Sisca menemukan berapa member yang suka hiking, bike, shopping, suka automotif, dsb. Sisca membuat event hiking pada musim panas dengan mendaki atau jalan jalan bareng ke Gunung Bromo atau yang suka liburan, Sisca men-arrange untuk liburan bersama ke Bali misalnya.

Sebagai seorang karyawan, Sisca tidak perlu presentasi tentang produknya ke para komunitas online nya. Sisca tidak perlu membawa bawa brosur atau memberikan souvenir product dari perusahaannya dalam rangka meningkatkan sales perusahaannya. Sisca memilih jalan lain …. meningkatkan dan memperbesar soliditas komunitas online nya. Sisca berpikir, kalau saya sudah punya komunitas yang solid, akrab, maka dengan sendirinya semua membernya akan memakai dan menjadi ambasador dari produknya. Begitu lah kekuatan social network.

[diilhami dari cerita Katie Morse]

Dibalik Sukses Portal Musik Digital Spotify dan Napster

Posted by admin on March 22, 2010 under Music | Read the First Comment

Layanan content musik digital Spotify telah memikat berjuta orang dalam waktu yang singkat, dengan menyuguhkan layanan streaming online musik secara gratis bagi para membernya. Sementara itu pendahulunya Napster secara diam diam meluncurkan paket US$ 5 untuk unlimited musik online streaming plus bonus 5 MP3 download setiap bulannya.

SPOTIFY, merupakan portal musik digital yang memungkinkan pelanggan internet melakukan browsing dan memainkan lagu lagu dari katalog lagunya yang berjumlah 3,5 juta lagu. User juga memungkinkan membuat kastemisasi play list dan memainkan lagu lagu kesukaannya. Sebelumnya user harus mendownload client yang memungkinkan pembuatan play list dimaksud. Layanan streaming yang disediakan adalah gratis dengan imbalan adanya banner di play list user serta advertising di dalam lagu (audio) yang sedang dimainkan. Bila user tidak mau ada iklan, maka user bisa membayar US$13 per Bulan. Layanan spotify hanya bisa dinikmati di UK, Swedia, Norwegia, Finlandia, Prancis dan Spanyol.

Secara Technology, Spotify tidak seperti imeem dan last.fm yang dala memainkan musik memalui web based. Spotify mengharuskan user untuk mendownload client, tersedia dalam Mac dan Window. Ketika user request suatu lagu, maka lagu dimaksud disediakan oleh server spotify langsung atau melalui komputer user lainnya dengan teknologi P2P (peer to peer). Artinya spotify akan menggunakan Bandwidth nya user walaupun user tidak sedang memainkan lagu. Katanya spotify telah mematenkan teknologi ini. File music juga di codec 160Kbps yang di claim memiliki kualitas suara yang lebih bagus dengan proses streaming yang lebih cepat.

Spotify didirikan tahun 2006 oleh Daniel EK dan Martin Lorentzon. Spotify based di Luxembourg dengan dasar untuk menghindari pajak meskipun para pegawainya bekerja di Swedia, UK dan Rumania.

Spotify didukung pendanaan yang cukup besar (jutaan dollars) dari kedua pendirinya dan berpuluh juta dollars dari para investor, termasuk beberapa major label yang ikut menanambakn share nya di spotify (tidak dijelaskan labels mana saja).

Beberapa gambaran financing dari portal musik yang telah ada :

a. Myspace Musik : US$ 45 Juta

b. Pandora : US$ 41 Juta

c. Spotify : US$ 28 Juta

d. Slacker : US$ 65 Juta

Economics. CEO Spotify menyebutkan bahwa dia hanya menghabiskan uang US$10 ribu untuk biaya Marketing Spotify hanya di UK dan telah menarik minat 1 juta users yang telah melakukan streaming 10 Juta lagu. Sebaliknya Spotify harus membayar fee per lagu yang dimainkan user ke pemilik lagu. Fee per lagu adalah 1 Cent per play (untuk musik on demand) dan 0,2 Cent untuk radio streaming. Bila kita hitung, maka fee per day yang harus dibayarkan Spotify ke pemilik lagu secara total adalah US$100,000 per hari atau US$360 Juta per tahun. Ini yang kita sebut dengan royalty. Advertising yang di generate sebagai revenue dari Spotify tentu tidak bisa mengcover besar royalti ini.   

NAPSTER:

Napster, sebelum krisis financial Global telah dijual kepada Best Buy, sebuah perusahaan retail besar. Best Buy merencanakan pengurangan cost yang sudah dilakukan oleh Napster, salah satunya adalah dengan migrasi dari Microsoft DRM ke MP3. Dengan demikian, musik di Napster akan dalam di play di beberapa device yang telah dijual di retailer2 besar. Saat ini dengan US$5 per bulan user sudah dapat menikmati streaming semua lagu, ditambah bonus 5 download MP3 gratis setiap bulannya.

Beberapa gambaran layanan musik digital premium adalah sebagai berikut:

Premium Music Services (Ad Free)

 

Monthly

Streaming

Devices

Mobile

Region

Other

Napster

$5.00

Interactive

Net radios

-

US, expected in UK, Germany shortly

Includes 5 MP3s/month

Pandora

$3.00

Radio

-

iphone, Blackberry, J2ME version for other phones

US

Huge userbase, but struggling to get per stream royalty rates changed in Congress.

Rhapsody

$12.95

Interactive

Net radios

-

US

Windows Only

Sirius

$12.95

Radio

Car radios

-

US, Canada

iphone app promised
Price raising $1.95/month end of July

Spotify

$13.00

Interactive

-

-

EU, Scandinavia, US promised

Android app previewed, but not released

Slacker

$3.99

Radio

Net radios

iphone, Blackberry

US

#1 music app on Blackberry. Rumored to be considering a MP3 store.

Apa yang terjadi di Masa Depan (Future):

User sudah membuktikan bahwa mereka sangat resist terhadap hal hal yang berbayar di dunia online ini. User selalu menghindar atas layanan layanan berbayar (subscription) seperti Napster dan Rhapsody yang justru menawarkan katalog lagu lagu yang sama isinya. Radio streaming berbayar seperti Pandora juga diprediksi tidak akan sukses. Pandora memperkirakan hanya 3% dari jumlah user yang berminat melakukan pembelian musik digital secara online.

Ok, coba lihat spotify. Disini spotify masih memiliki bisnis model lainnya yaitu Advertising. Namun dibandingkan dengan Fee Royalti yang harus mereka bayar ke musik owner sekitar US$ 360 juta, maka pendapatan dari advertising ini masih jauh dari harapan mungkin 10 sampai 100 kali lipatnya.

Napster juga mengalami hal yang sama, dengan US$5 per bulan dan jumlah pelanggan subcribe yang cukup kecil maka mustahil kalau Napster sebagai perusahaan yang stand alone, bisnis ini akan berjalan dengan baik. Best Buy sebagai parent company tentunya diharapkan dapat menolong Napster.

Secara profit, tentunya bisnis musik digital akan banyak mengalami tekanan dan diperkirakan tidak akan sustain. Kecuali ada kejelasan dan perubahan dalam pola pembayaran royalti fee yang cukup besar.

(disadur dari tulisan Michael Robertson, the founder of MP3.com dan MP3tunes

Social Media by Statistik Penggunaan

Posted by admin on March 19, 2010 under Social Media | Be the First to Comment

Retrevo, sebuah badan survey independent melakukan suatu survey terhadap 1000 orang pengguna social media tentang bagaimana prilaku penggunaan social media seperti facebook atau twitter. Pertama responden dibagi berdasarkan kelompok umur, yaitu usia diatas 25 tahun dan usia dibawah 25 tahun.

Pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengecek facebook atau twitter begitu kamu bangun tengah malam dan begitu kamu bangun pagi pagi? Hasilnya, yang menjawab Ya, saya mengecek adalah 48% dan 52% sisanya tidak nge cek di tengah malam atau pagi pagi baru bangun. Yang mengejutkan adalah, dari 48% persen tersebut porsi usia dibawah 25 tahun lebih besar dibandingkan porsi pengguna social media diatas 25 tahun.

Pertanyaan kedua adalah apakah kamu mengecek facebook atau twitter pada pagi hari begitu kamu bangun tidur?.

Untuk responden usia dibawah 25 tahun, mereka menjawab : 18% menyatakan Ya begitu baru bangun tidur (masih di tempat tidur), 17% menyatakan Ya sebelum menghidupkan TV, 16% menyatakan Ya, merupakan cara saya mendapatkan berita pagi.

Untuk responden usia diatas 25 tahun, mereka menjawab : 8% menyatakan Ya begitu baru bangun tidur (masih di tempat tidur), 17% menyatakan Ya sebelum menghidupkan TV, 15% menyatakan Ya, merupakan cara saya mendapatkan berita pagi.

Pengguna Iphone menjawab dengan jumlah yang cukup ekstrem, mereka menjawab : 28% menyatakan Ya begitu baru bangun tidur (masih di tempat tidur), 26% menyatakan Ya sebelum menghidupkan TV, 23% menyatakan Ya, merupakan cara saya mendapatkan berita pagi.

Pertanyaan ketiga bagi para responden adalah Apakah kamu dapat di interupsi setiap saat oleh adanya pesan elektronik yang masuk di inbox PC atau HP kamu ?

Responden dibawah 25 tahun memberikan jawaban : 22% Ya bisa di interupsi pasa saat meeting, 49% Ya bisa diinterupsi saat makan, 24% Ya bisa diinterupsi saat buang hajat, 33% No, saya tidak bisa diinterupsi oleh datangnya pesan elektronik.

Responden diatas 25 tahun memberikan jawaban : 11% Ya bisa di interupsi pasa saat meeting, 27% Ya bisa diinterupsi saat makan, 12% Ya bisa diinterupsi saat buang hajat, 62% No, saya tidak bisa diinterupsi oleh datangnya pesan elektronik.

Demikian hasil surveynya, silahkan disimpulkan masing masing oleh pembaca.

Sumber : Mashable

Industri Entertainment menggunakan Social Media untuk Mendongkrak Rating

Posted by admin on March 18, 2010 under Entertainment, Social Media | Be the First to Comment

Saat membuka web site acara “Dancing with Stars” yang ada di abc.com saya merasa bahwa industry acara TV nasional ternyata masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan stasiun TV luar dalam hal pemanfaatan social media dalam mendongrak rating acara. Dancing with Stars adalah acara reality show TV buatan stasiun TV ABC. Sesuai dengan namanya bahwa ada sepasang penari yang biasanya menari tarian modern secara berpasangan dan nantinya oleh juri dipilih siapa pasangan penari yang akan menjadi juara. Saya tidak pernah menonton acara TV nya, namun saya tertarik pada bagaimana mengintegrasikan acara TV dengan mendia online serta social media yang saat ini sudah ada. Para fans/penonton tidak hanya bisa menonton acaranya via TV namun juga bisa menjadi follower dari semua penari (dancer) acara dimaksud. Semua dancer memiliki account twitter, sehingga mereka bisa langsung komunikasi / chat dengan fans nya dan para fans bisa langsung menyumbangkan dukungan dari pasangan dancer yang menjadi idolanya.

Tidak hanya acara Dancing with the Stars melakukan hal ini, American Idol yang pertama membuat bagaimana penonton bisa berpartisipasi dalam melakukan voting yang selanjutnya akan menentukan hasil akhir pemenang American Idol, namun waktu itu votingnya masih sebatas via SMS atau Telepon Voting (belum menggunakan social media). Acara lain adalah acara milik MTV, reality show juga , nama acaranya “16 and Pregnant”. Para penonton acara ini juga bisa melakukan diskusi antar sesama fans maupun pemilik acara TV via social media seperti Facebook dan twitter.

Di dunia Music, saya baca di Mashable , bahwa MuchMusic, salah satu music channel di TV berbayar di Kanada, bekerjasama dengan para artis penyanyi/gorup band mengadakan live chat dengan fans nya di twitter.

Di perfilm an juga sama, Twentieth-Century Fox bekerjasama dengan MTV menggunakan para fans nya untuk mempromosikan Film AVATAR. Live interview dengan James Cameron, tanya jawab dengan fans secara real time melalui Facebook, Twitter, Myspace dan Yahoo.

Apa sebenarnya keuntungan dari para fans akan fenomena ini: Para Fans mempunyai akses yang sangat luas akan artis idolanya, bahkan bisa berkomunikasi secara langsung. Hal ini akan memberikan experience yang berbeda bagi para fans dari artis ybs.

Apa sebenarnya keuntungan dari artis, Stasiun TV, Rumah Produksi: Memberikan exposure yang lebih besar untuk artis atau stasiun Tv atau PH dimaksud dan dengan sendirinya akan menaikkan page views, rating, dan tentunya bertambah rating atau penjualan dari artis dimaksud.

Materi Presentasi Seminar Bagimu Guru “Digital Lifestyle”

Posted by admin on November 6, 2009 under General | Be the First to Comment

Materi presentasi tanggal 6 November 2009 pada acara Seminar dan Workshop Bagimu Guru dapat diunduh disini.

bagimu-guru-bag1 , bagimu-guru-bag2

Menentukan Bisnis Model Online Content

Posted by admin on November 4, 2009 under Internet Content | Be the First to Comment

Pada setiap kesempatan saya presentasi atau diskusi dengan teman teman pengelola online content, sangat sering mereka tidak menemukan bisnis model yang tepat. Bahkan untuk membiayai biaya operasional dari content yang mereka buat sendiri kadang kadang bingung.

Saya kebetulan searching di Google dan mendapatkan artikel yang cukup menarik dalam rangka membuat bisnis model untuk online bisnis. KPMG menjelaskan hal ini dengan cukup mudah untuk dipahami. Silahkan baca di artikel terlampir ini  bisnis model content services

Web Site Telco Kalah Menarik dibanding Search Engine dan Social Networking

Posted by admin on October 30, 2009 under General | Be the First to Comment

Berdasarkan study yang telah dilakukan oleh NSN Research, didapatkan suatu hasil yang menarik berkaitan dengan prilaku dari user internet dalam melakukan akses ke website/portal. Gambar dibawah menunjukkan fenomenanya.

browser-use

 

 

 

 

 

 

 

Dari tahun 2005 s.d 2007 user internet masih suka mengunjungi situs situs operator / ISP, selanjutnya baru mengakses Google. Pada tahun 2005, 2006  dapat dibilang sebagai technology innovation. Innovasi biasanya datang dari operator telekomunikasi, research center yang berkaitan dengan telekomunikasi, vendor handheld atau vendor consule. Nah pada tahun ini user sangat tertarik akan innovasi khususnya di technology personal device. Pada tahun 2007, perangkat perangkat (gadget) yang sangat sarat teknologi tersebut mulai berkembang untuk meningkatkan functionality nya. User masih berkunjung ke web site web site operator dalam rangkat mengetahui update version dari masing masing personal device tersebut.

Ada apa di tahun 2008 ? Nah .. di tahun ini orang mulai berubah lifestyle. Tadinya hanya melihat innovasi dan melakukan update technology. Selanjutnya user focus pada connect & personal. Connect maksudnya adalah selalu terhubung dengan member lainnya dan berkomunikasi. Personal maksudnya adalah personalisasi user, mereka hanya ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan (sesuai dengan kebutuhan dan personal nya masing masing). Selanjutnya dapat ditebak bahwa user berbondong bondong mengunjungi situs situs yang bisa memenuhi keinginannya. Mencari sesuatu dengan cepat dan tepat. Selanjutnya user selalu ingin berkomunikasi dan bersosial. Web site Telco / operator yang biasanya menyajikan update technology dan innovasi mulai ditinggalkan dan user internet ramai ramai menggunakan google dan memakai aplikasi social networking.

Ancaman bagi Telco ? belum tentu. Telco harus me-redefinisi bisnis modelnya. Merangkul para platform provider, content owner untuk dapat di bundle dalam pipa yang dimiliki Telco.

Free vs Paid Content

Posted by admin on October 26, 2009 under Internet Content | 2 Comments to Read

Dari pengamatan saya, banyak rekan rekan pemilik content khususnya online content merasa sangat susah untuk menjual content nya. Mereka berpikir bahwa pengguna internet sudah sangat terbiasa dengan content content gratis. Katakanlah Youtube, user sangat nyaman untuk memperoleh video video gratis. Facebook juga sama. Bila tiba tiba Yotube atau Facebook dipungut bayaran, maka kita yakin sebagian besar user akan kabur dan tidak mau memakai layanan itu lagi dan mencari aplikasi atau content yang gratis.

Kapan kita bisa menyatakan bahwa content ini harus berbayar dan content lainnya harus kita sediakan secara cuma cuma alias gratis. Nah .. saya ingin ulas mengenai hal ini. Kalau tidak cukup di tulisan edisi ini, pada edisi selanjutnya saya akan coba detailkan model model bisnis yang bisa dikembangkan.

Perdebatan Free vs Paid content ini memang sudah sering didiskusikan. Contohnya di situs Paley Center of Media, issue ini juga pernah diperdebatkan.

Pada dasarnya hanya ada 3 bisnis model online content, yaitu : I Pay, You Pay, The others will pay.  I Pay, maksudnya adalah saya (sebagai publisher) memberikan anggaran untuk create, produce dan distribusi content dengan tujuan tertentu. You Pay, maksudnya pelanggan saya akan membeli content saya. The others will pay, maksudnya bahwa saya dan content owner menyediakan content secara gratis kepada pelanggan saya dan yang membayar content nya adalah pihak ketiga. Katakanlah di situs content gratis itu saya taruh iklan, maka sebenarnya pemasang iklan itu membayar kepada saya, hasil pembayarannya selanjutnya saya bagi bagi kepada para pemilik content. That’s it.

Pada saat kita mengakses Google, kita mendapatkan content dari Google secara gratis, dalam artian tidak mengeluarkan uang. Namun tanpa kita sadari kita Google sudah menghabiskan sebagian waktu kita untuk mengaksesnya. Kita sudah menghabiskan atensi (perhatian) kita ke Google. Nah .. atensi dan waktu yang telah kita habiskan itulah dikonversi oleh Google dan dijual oleh Google kepada para pemasang Iklan.

Gerd Leonhard, seorang media futurist menyebut bahwa new currency dalam dunia online adalah “attention”.  Currency yang kita sangat familiar dengan Cash, namun sekarang sudah ada “attention” khususnya dalam dunia online. Nah … disini sudah terjadi yang namanya translasi dari Cash ke Attention. Inilah bisnis model baru dalam dunia online.

Google China, membeli lisence music kepada para Major Record Label. Tentunya untuk membeli Google harus mengeluarkan sejumlah Cash. Sebaliknya Google China memberikan cuma cuma (gratis) lagu lagu yang telah dibeli tadi kepada para pengunjung Google. Trus Google mendapat apa ? Dengan adanya musik gratis, maka user berbondong bondong datang ke Google. Situs nya jadi rame. Google mendapatkan Attention atau intention. Disanalah intention itu di rubah kembali menjadi Cash oleh Google dengan meng invite para pemasang iklan di Google China.

Melon.Com, portal musik terbesar saat ini di Korea bahkan di dunia, juga membeli musik musik secara bulk kepada para Major Record Label, selanjutnya Melon membundle content musik nya dengan layanan broadband yang di sediakan oleh SK Telecom. Melon adalah anak usaha dari SK Tel. Apa yang didapatkan Melon? Melon mendapatkan fee dari SK Tel. SK Tel mendapatkan pertumbuhan jumlah pelanggan Broadband.

Spotify.com dan TDC.Com juga melakukan hal yang sama. Spotify bekerjasama dengan beberapa Major Record Label memberikan grati streaming lagu lagu kepada pengunjungnya. Bila pengunjung ingin mendapatkan premium service seperti bisa mendownload unlimited lagu dan mendapatkan bit rate yang lebih tinggi yaitu 320 Kbps, maka pelanggan harus membayar monthly fee.

Dari intention yang dijalankan Google, mereka telah meraup $ 16 Triliun per tahun. Bila kita searc di Google, dalam waktu 0,02 detik anda akan dihadapkan pada hasil pencarian sekitar 2,3 juta informasi. Mereka menyediakan itu secara gratis.

Kesimpulannya, dapatkan free content menghasilkan uang ? Tentu jawabannya YA. Kita harus menyadari bahwa sudah ada translasi mata uang dari Cash ke Attention atau Intention. Jadi sebenarnya tidak ada yang gratis di bisnis online, semua berbayar. Cuma cara bayar kita beda beda, ada yang pakai Cash, ada yang menghabiskan waktu kita, ada yang menghabiskan Attention kita dan ada pula yang mengambil sebagian Intention kita. Demikian. salam.

Presentasi Pesta Blogger 2009: Content & Telecoms

Posted by admin on under General | Be the First to Comment

Materi Presentasi Pesta Blogger 2009 di Gd SMESCO Jakarta. Silahkan download disini  kba-presentasi-pesta-blogger

Kenapa Telco harus merubah bisnis modelnya?

Posted by admin on October 12, 2009 under General | Be the First to Comment

Hampir semua perusahaan telekomunikasi di seluruh dunia merasakan tekanan yang luar biasa atas pencapaian performance nya, terutama pada bisnis bisnis legacy seperti voice dan sms. Komunikasi telepon baik melalui suara maupun sms sudah mengalami penurunan yang luar biasa, padahal semua Telco bertumpu pada kedua jenis layanan ini dalam hal pencapaian pendapatannya. Rata rata penurunan per tahun bisa mencapai 15%, bahkan lebih di negara negara amerika utara dan eropa.

Kenapa hal ini mengalami penurunan? karena life style pelanggan sudah berubah, kebutuhan orang sudah berubah dan teknologi telah memungkinkan (menjadi enabler) dalam perubahan lifestyle tersebut.

Dengan demikian semua telco mengalami nasib yang sama. Mereka tidak bisa hanya menjual voice dan sms saja. Telco harus memikirkan bisnis diluar voice dan data. Apa bisnis itu .. jawabannya saya bagi 3 yaitu bisnis content, advertising, social network . Ketiga bisnis ini running diatas network nya Telco. Dengan demikian kalau kita sebut ekosystem, maka Telco sekarang harus secara bersama menyediakan content, advertising serta social network.

Trus banyak orang bertanya bisnis modelnya seperti apa? Pertanyaan ini yang sering sekali kita dengar. Jawabannya adalah : Telco sudah tidak jamannya lagi menikmati margin yang besar. Margin revenue selanjutnya harus di share dengan penyedia content, advertising serta social networking. Apakah porsi revenue Telco berkurang ? Malah bertambah karena market nya bertambah dengan menggandeng komunitas content, advertising dan social network.

Telco selanjutnya akan sangat tergantung pada delivery multi product dan multi revenue stream. Telco harus sangat open terhadap para penyedia content, ad, social network apabila ada ide bundling diatasnya. Multi product dapat dicreate diatas network dengan menggandeng banyak content owner. Revenue stream sangat memungkinkan dapat dari berbagai service diatas network dan colection dan setllement harus dibuat dengan akurat, mudah dan cepat.

Saat ini model pricing untuk layanan broadband sudah tidak sustain lagi, dimana pelanggan akan membayar lebih bila usage nya bertambah. Hal ini sama dengan layanan voice, semakin banyak menggunakan maka pelanggan akan dikenakan charge semakin banyak. Selanjutnya akan lebih sustain dengan metode charging unlimited. Berapapun orang pakai broadband, bayarnya tetap sama. Dilura itu, Telco harus ber partnership dalam membuat layanan content dan aplikasi yang bisa di charge sebagai additional revenue. Advertising juga merupakan sumber revenue baru apabila attention / komunitas broadband sudah sedemikian besar.

Perubahan bisnis model ini merupakan hal yang sangat baru bagi Telco, bahkan banyak Telco mungkin frustasi akan keadaan ini. Kalau mau tumbuh, mau tidak mau ini harus dijalani. Ke depan layanan video streaming, interactive TV, bundling voice, video, TV akan menjadi trend dan diprediksi merupakan sumber revenue baru bagi Telco.

Beware Telcos, if you failed to plan , then you plan to fail.

Soundwalk.com menawarkan platform content yang menarik

Posted by admin on October 5, 2009 under Internet Content | Be the First to Comment

Narsis, itulah awalnya. Hampir semua netter dibuat narsis oleh web web social networking. Satu lagi website social networking yang juga akan membuat orang narsis. Di web ini orang bisa membuat penjelasan tentang suatu object dengan menggabungkan antara video, musik, voice over serta peta. Misalnya katakanlah kita ingin menjelaskan tentang kota kelahiran kita sekalian promosi wisata he he. Nah pertama kita ambil video tentang kota tersebut, untuk memperjelas nama nama bangunan, nama nama jalan, dsb maka kita tambahkan voice over diatasnya. Setelah itu untuk mempercantik tampilan dan biar lebih seru … kita bisa tambahkan musik, musik jenis apa saja, tergantung kemauan kita. Setelah itu kita bisa capture google maps dan copy di web ini untuk memperjelas lokasi dan arah menuju kota tersebut. Setelah lengkap maka tingga diposting saja di web site ini dan tunggu komentar dari orang lain yang melihat video kita. nah coba saja buka www.soundwalk.com , disana sudah kita temukan beberapa content yang sudah di submit oleh member nya. Kebanyakan menjelaskan tentang suatu kota, object wisata, stasiun kereta, dsb.

Dengan metode ini sebenarnya kita bisa membuat hal hal lain yang lebih posisitf dan bersifat promosi, misalnya promosi daerah wisata, menjelaskan tentang lokasi suatu tempat, dsb.

Indonesia sebagai negara dengan object wisata yang beraneka ragam, untuk lebih mempromosikan lokasi wisata tertentu bisa menggunakan metode ini. Apalagi orang Indonesia ini suka jalan jalan. Nah bagi yang ingin melihat preview tentang kota atau daerah wisata yang akan dikunjungi tinggal click aja di web site ini, bahkan bisa di lihat juga/download di HP.

Selamat mencoba.

Musik Indonesia Setelah Ring Back Tone

Posted by admin on April 15, 2009 under Internet Content | 2 Comments to Read

Bisnis musik Indonesia saat ini sangat tergantung dari bisnis Ring Back Tone (RBT) operator Telekomunikasi. Di saat penjualan kaset dan CD mengalami penurunan dan MP3 bajakan merajalela di negeri ini, RBT menjadi dewa penyelamat bisnis musik Indonesia. Read more of this article »

Bursa Mata Kuliah di Perguruan Tinggi ala Indonesia

Posted by admin on March 27, 2009 under Internet Content | Read the First Comment

Mendengar kata Open Course Ware (OCW) saya dapatkan dari MIT, saat search di Google. Setelah lama mengenal kata OCW ini, saya juga banyak diskusi dan mendapat pencerahan dari Bpk Eko Indrajit. Banyak ide beliau yang ditujukan untuk memajukan system pendidikan di Indonesia.  Salah satunya adalah bagaimana para mahasiswa di seluruh Nusantara ini dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang memadai, meskipun mahasiswa yang bersangkutan kuliah di Universitas daerah yang notabene mungkin fasilitas dan akreditasinya lebih rendah ddibandingkan dengan kampus kampus yang ada di Pulau Jawa.

Read more of this article »

Customer Service di Dunia Web 2.0 ala Bloggers

Posted by admin on February 15, 2009 under Internet Content | 4 Comments to Read

DELL Computer, mungkin semua tahu salah satu perusahaan komputer ini. Perusahaan ini mendapatkan pengalaman yang sangat berharga di Web 2.0 dan para bloggers. Mereka seharusnya berterimakasih atas kehadiran Google dan Bloggers. DELL bangkit dari perusahaan dengan kategori poor customer service menjadi excellent customer service. 

Read more of this article »

Penyanyi dan Group Musik Rame Rame Menjadi Indie Label

Posted by admin on January 23, 2009 under General | 12 Comments to Read

Musik Indonesia sedang mengalami masa masa kejayaannya. Setiap hari kita melihat group musik baru muncul di Televisi, bahkan kita sudah tidak hafal lagi nama nama groupnya. Musik yang dihasilkannya pun sangat beragam. Kita dihadirkan musik musik yang sangat enak untuk dicerna dan dinikmati. D’Massiv adalah salah satu group musik pendatang baru yang sangat sukses. Group ini mampu mengalahkan group group lain yang sudah dulu hadir di panggung musik Indonesia. Lagu lagunya pun sangat enak didengar.

Read more of this article »

Bisnis Model Layanan Mobile Content

Posted by admin on December 29, 2008 under Mobile Content | 6 Comments to Read

Definisi bisnis model dapat kita ambil dari berbagai sumber. Buku Web 2.0 Business Model dan Wikipedia menyatakan bahwa bisnis model adalah sebuah metode dalam melakukan suatu kegiatan bisnis sehingga suatu perusahaan dapat mempertahankan pertumbuhan dan menghasilkan revenue. Jadi ada dua kata kunci dalam definisi bisnis model ini. Pertama mempertahankan pertumbuhan (sustain) dan menghasilkan revenue. Kedua hal tersebut harus seiring, kalau hanya tumbuh tanpa menghasilkan revenue, maka perusahaan akan kesusahan dalam menjalankan bisnisnya, begitu pula sebaliknya.

Read more of this article »

Sejarah Perjalanan Web Content

Posted by admin on December 23, 2008 under General | 13 Comments to Read

Ketika kita mengingat ingat, kapan ya kita mengenal internet untuk pertama kalinya?. Sy sewaktu kuliah di STTTelkom bandung dari tahun 1991 s.d 1995 terus terang belum mengenal internet. Pertanyaan selalu membayangi setiap orang yang membicarakan kata “internet”. Barang apa sebenarnya internet ini.

Read more of this article »

SMS BERHADIAH, APA dan BAGAIMANA?

Posted by admin on December 19, 2008 under Mobile Content | Be the First to Comment

Mungkin sering kita lihat di TV belakangan ini iklan iklan dari Mama Laurent, Ki Joko Bodo, dsb yang menawarkan ramalam ramalan. Di dalam iklan itu juga disebutkan nomor akses SMS yang dituju, yang biasanya nomor pendek (Shortcode) biasanya 4 digit nomor. Sebelum mendapatkan content SMS, biasanya untuk pertama kali pelanggan harus melakukan registrasi dengan mengirim kata REG ke nomor pendek tadi. Selanjutnya mesin penjawab akan mengirimkan SMS balasan, misalnya “selamat anda telah mendaftar di layanan ini”. Kenapa say tulis mesin penjawab? karena memang yang mengetik SMS di sisi operator adalah bukan orang melainkan server dan aplikasi otomatis. Dari mulai registrasi, maka operator dan content provider sudah melakukan charging kepada pelanggan. Misalnya tarif SMS biasa + tarif SMS Content (SMS Balasan) tadi. Biasanya tarif SMS biasa adalah Rp 300 (post paid) dan Rp 350 (pre-paid), sedangkan tarif SMS Content nya adalah Rp. 1000 s.d 2000, bahkan ada yang mengenakan Rp. 5000 untuk layanan layanan tertentu.

Read more of this article »

Mobile Content Yg Paling Diminati Masyarakat Indonesia

Posted by admin on December 14, 2008 under Mobile Content | 2 Comments to Read

Masyarakat Indonesia mempunyai minat tersendiri terhadap content content mobile. Avatar di negara korea dan jepang sangat sukses, namun di Indonesia tidak demikian. Content dengan muatan budaya lokal Indonesia ternyata cukup diminati oleh masyarakat Indonesia. Dengan demikian para content provider harus extra hati hati dalam memilih content untuk di jual ke masyarakat.

Read more of this article »

PERBEDAAN PRE WEB, WEB 1.0 DAN WEB 2.0

Posted by admin on December 7, 2008 under General | 3 Comments to Read

Saat ini cukup sering kita mendengar istilah web 2.0. Masih banyak diantara kita yang masih bertanya tanya apa sebenarnya web 2.0 itu. Kalau ada web 2.0 artinya ada web 1.0. Kapan sebenarnya dimulainya web 2.0. Baik, dalam tulisan ini saya coba untuk mendeskripsikan dengan bahasa yang lebih mudah mengenai perbedaan keduanya. Bahkan saya coba explore perbedaan sebelum adanya web 1.0.

Read more of this article »